Jumat, 08 Agustus 2014

Es Antarktika Barat Meleleh Lebih Cepat


Dua studi terbaru menunjukkan lapisan es Antarktika Barat meleleh lebih cepat dari perkiraan. Prediksi permukaan air laut IPCC pun harus dihitung ulang karena levelnya kemungkinan jauh lebih tinggi. 

Gletser Thwaites meleleh cepat, ujar kedua tim ilmuwan
Gletser Thwaites meleleh cepat, ujar kedua tim ilmuwan
Studi terbaru dari NASA yang diterbitkan 'Geophysical Research Letters' dan studi kedua oleh para peneliti dari Universitas Washington masing-masing berkesimpulan bahwa bagian dari lapisan es Antarktika Barat perlahan sudah mulai runtuh. Ini dapat berujung pada kenaikan permukaan air laut secara signifikan pada satu-dua abad ke depan. Kedua tim riset, menggunakan metode yang berbeda dan mencermati bagian berbeda pada lapisan es, menyimpulkan bahwa tren ini tidak dapat dihentikan.
Studi NASA menggunakan data dari satelit, pesawat, kapal dan pengukuran beting es untuk meneliti enam gletser besar di Laut Amundsen dalam 20 tahun terakhir. Laporan kedua, yang diterbitkan jurnal 'Science,' memakai model komputer untuk mempelajari gletser Thwaites. Gletser ini dianggap penting karena berperan sebagai pembatas yang menahan seluruh lapisan es.
Lapisan es Antarktika Barat mengandung begitu banyak es sehingga dapat menaikkan permukaan air laut global hingga 3-4 meter apabila meleleh sepenuhnya. Karena letaknya yang saat ini berada di bawah permukaan air laut, lapisan es ini dipandang rentan terhadap menghangatnya air laut.
Hingga kini kalangan peneliti berasumsi bahwa diperlukan ribuan tahun hingga lapisan es runtuh seluruhnya. Dua studi terbaru mengindikasikan bahwa ini dapat terjadi jauh lebih cepat - sedini 200 tahun dari sekarang, atau paling lama 900 tahun.
Keruntuhan mulai terjadi
Menurut periset NASA Eric Rignot, gletser Laut Amundsen sektor Antarktika Barat telah melewati "titik yang dapat dibalikkan." Kepada kerumunan wartawan ia menyatakan ini berarti permukaan air laut akan naik setidaknya 1,2 meter dalam 200 tahun mendatang.
Sementara ilmuwan UniversitasWashington, dengan menggunakan peta topografis, simulasi komputer dan radar udara, juga menemukan bahwa gletser Thwaites telah memasuki tahap awal keruntuhan. Mereka memprediksi gletser ini akan hilang dalam beberapa ratus tahun ke depan. Dan ini akan menyebabkan naiknya permukaan laut setinggi sekitar 60 sentimeter.

Studi NASA menunjukkan bahwa kenaikan permukaan air laut setinggi 1,2 meter bisa terjadi

Studi NASA menunjukkan bahwa kenaikan permukaan air laut setinggi 1,2 meter bisa terjadi
Kabar baiknya, menurut ilmuwan Ian Joughlin, meski kata 'runtuh' mencerminkan perubahan yang mendadak, skenario tercepatnya adalah 200 tahun dan paling lama lebih dari 1.000 tahun. Kabar buruknya, ia menambahkan, bahwa keruntuhan semacam ini tidak dapat dihindarkan.
"Sebelumnya, ketika kami melihat penipisan, kami tidak mengetahui apakah keruntuhan gletser ini nantinya akan melambat, baik secara spontan atau karena bereaksi," ungkap Joughlin. "Dalam simulasi model kami justru terlihat bahwa setiap reaksi menunjuk pada percepatan seiring waktu. Tidak ada mekanisme stabilisasi yang dapat kami utarakan."
Sang peneliti Universitas Washington itu mengatakan penipisan es dalam beberapa dekade terakhir kemungkinan besar diakibatkan perubahan iklim. Bertambahnya emisi berujung pada percepatan pelelehan dan keruntuhan.
Laporan IPCC tak lagi valid
Laporan terakhir dari IPCC tidak memasukkan faktor keruntuhan lapisan es Antarktika Barat ke dalam proyeksi kenaikan permukaan air laut, dengan alasan kekurangan data. Ini "kemungkinan besar akan direvisi," menurut Sridar Anandakrishnan dari Universitas Negara Bagian Pennsylvania dalam presentasi studi Universitas Washington.
"Angka yang dihasilkan IPCC bisa dibilang tergolong konservatif," tambah sang peneliti yang tidak terlibat dalam studi Universitas Washington. Ia yakin prediksi IPCC harus ditingkatkan menjadi lebih dari 90 sentimeter kenaikan permukaan air laut pada tahun 2100.
Pakar glasiologi NASA Rignot menyatakan dirinya juga terkejut oleh kecepatan keruntuhan.
"Kami rasa pada titik ini sistemnya telah memasuki semacam rantai reaksi yang tidak dapat dihentikan," tuturnya.
"Sistem ini, baik Greenland atau Antarktika, tengah berubah dalam skala waktu yang jauh lebih cepat dari yang kami antisipasi," tambahnya. Rignot lanjut beropini bahwa langkah drastis untuk mengurangi emisi gas rumah kaca tidak akan mampu mencegah keruntuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar