Jumat, 08 Agustus 2014

Jika Es Kutub Utara Mencair, Indonesia Bakal Tenggelam


Ilustrasi-Kutub Utara/Teachingtimes
 
Teachingtimes
Ilustrasi-Kutub Utara
Kabar24.com, JAKARTA- Apa jadinya bila es di Kutub Utara mencair? Permukaan air laut pasti akan naik dan itu sangat berdampak pada Indonesia. Lebih dari 17.000 pulau di Nusantara ini terancam tenggelam.
Fenomena global seperti perubahan iklim, akan membuat udara semakin panas. Hal itu akan berimbas pada Kutub Utara dan es di daerah tersebut bisa ikut mencair.
"Indonesia sangat terpengaruh pada perubahan cuaca. Jika Kutub Utara esnya mencair, akan membuat sebagian pulau kita mengecil, sebagian lagi tenggelam. Belum lagi berbagai dampak lainnya," kata Teguh Rahardjo, Staf Ahli Bidang Teknologi Hankam Kementerian Ristek, di Jakarta, Senin (2/9).
Untuk mengatasi dan mengetahui dampak tersebut, diadakanlah Konferensi Internasional tentang Aplikasi Teknologi Antariksa untuk Perubahan Iklim (United Nations/Indonesia International Conference on Integrated Space Technology Applications to Climate Change).
Konferensi yang diselenggarakan oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) dan Badan PBB yang mengurusi keantariksaan (United Nations Office for Outer Space Affairs/UNOOSA) ini, diikuti oleh 30 negara-negara PBB, dan berlangsung 2-4 September di Hotel Borobudur, Jakarta.
Pada konferensi ini akan hadir para pakar bidang teknologi antariksa dan perubahan iklim dari berbagai negara.
Juan Carlos Villagran dari UNOOSA, membenarkan jika Indonesia paling berdampak pada perubahan iklim. Pulau-pulau yang dimiliki Indonesia bisa terancam. Meski Indonesia memiliki teknologi antariksa, tetap butuh dukungan dari negara lain.
"Kita bisa belajar, berdiskusi mengenai cara mengantisipasi dampak perubahan iklim dengan menggunakan teknologi antariksa, khususnya teknologi penginderaan jauh. Apalagi kita belum punya satelit khusus untuk meteorologi. Karenanya perlu kerjasama dengan negara-negara maju," kata Orbita Roswintiarti, Kepala Pusat Teknologi Penginderaan Jauh Lapan.
Bambang Tejasukmana, Kepala Lapan, menambahkan peran teknologi antariksa sangat penting dalam mengobservasi variabel-variabel perubahan iklim. Di antaranya kenaikan muka air laut, tren deforestasi atau emisi karbon, dan parameter lainnya yang sulit dilakukan dengan pengamatan langsung.
"Teknologi antariksa akan menempatkan berbagai satelit untuk memantau. Bidang Pertanian memang yang paling berpengaruh karena sangat sensitif dan tergantung pada cuaca," ujarnya.
Dia menuturkan dari konferensi ini diharapkan semuanya mendapatkan ilmu-ilmu baru, terkait dengan antisipasi perubahan iklim. (Kabar24.com)
Editor: Andhina Wulandari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar